KITA#001 · Adi Sembiring

Gagal LPDP, Kok Bisa Jadi Product Manager di Amerika?

7 Oktober 2026 · 1:24:31

Tonton di YouTube · Subtitel Indonesia dan Inggris ada di sana, tinggal nyalain CC.

Adi Sembiring besar di Kabanjahe, kuliah Teknik Kimia di ITB, kerja di BCG, lalu MBA di Cornell dan sekarang jadi Senior Product Manager di Fanatics.

Di episode pertama KITA ini dia cerita soal interview konsultan, visa pas Covid, cara minta coffee chat yang nggak bikin ilfil, sampai road trip keliling Amerika.

Saat rekaman, Adi kerja sebagai Senior Product Manager di Fanatics, Redwood City, California.

Yang bisa kamu pelajari

  • Buat Adi, belum keterima LPDP justru jadi titik balik: dia mutusin kerja dulu, dan dari situ masuk consulting. 22:30
  • Adi milih Teknik Kimia supaya masih bisa pivot ke industri lain kalau perlu. 20:05
  • Di case interview konsultan, yang dinilai cara mikir dan cara ngomongnya, bukan cuma angka akhirnya. 27:02
  • Menurut Adi, di MBA yang paling penting itu semester satu, soalnya recruiting udah mulai dari situ. 47:28
  • Coffee chat ala Adi: kenalin diri dan jelasin kenapa kamu ngajak dia, kasih waktu minimal beberapa hari atau seminggu, tunjukin kamu udah riset, lalu kirim rangkuman yang kamu pelajari. Victor Augusteo nambahin satu: follow up, kabarin apa yang udah kamu lakuin. 1:04:21
  • Jangan nunggu pensiun buat jalan-jalan; buat Adi, jeda pindah kerja jadi waktu yang pas buat road trip. 1:11:14

Bab

  1. 0:00 Cuplikan
  2. 0:23 Kenalan sama Mas Adi Baca
  3. 6:27 Product manager itu ngapain sih? Baca
  4. 11:28 A/B testing dan serunya di Fanatics Baca
  5. 18:11 Dari Kabanjahe ke Teknik Kimia ITB Baca
  6. 21:45 Gagal LPDP, malah masuk BCG Baca
  7. 26:49 Interview di BCG kayak gimana? Baca
  8. 33:37 Hidup jadi konsultan di BCG Baca
  9. 39:17 Kenapa milih Amerika Baca
  10. 43:22 Daftar MBA dan visa pas Covid Baca
  11. 49:27 Cornell: kuliah di tengah antah berantah Baca
  12. 1:01:31 3 pelajaran MBA dan cara minta tolong Baca
  13. 1:09:52 Road trip keliling Amerika Baca

Transkrip

Transkrip ini dirapikan ringan: tanda baca dan paragraf dibenahi, beberapa kata pengisi dan pengulangan dihapus. Ini bukan transkrip kata demi kata, dan dimulai sesudah cuplikan pembuka. Kalau ada bagian yang kurang jelas, cek videonya lewat timestamp. Ada koreksi? Kabarin aku.

Baca transkrip lengkap

Kenalan sama Mas Adi 0:23

Victor: Oke, well, welcome to Podcast KITA. This is episode zero zero one. Jadi ya, kita bakal mostly pakai bahasa Indonesia tapi bakal campur-campur juga sama bahasa Inggris, ya. Jadi tamu pertama kita Mas Adi. So, thank you so much, Mas, for being our first guest here.

Jadi Mas Adi itu sekarang kerja di mana, tinggal di mana, ngapain aja sehari-hari?

Adi: Yep, thanks for having me. I think first of all, I'm super honored like to be part of this podcast. Especially like to become like the first guest. So yeah, excited to share my experience. Jadi teman-teman bisa panggil saya Adi. Sekarang gua kerja di Redwood City, tepatnya di Fanatics, dan role-nya sekarang adalah sebagai senior product manager. Dan untuk kesehariannya sekarang tinggal di San Bruno, lagi transisi mau pindah ke Redwood City.

Jadi baru join this company probably around like three months ago, give or take. Dan interestingly, pas sign offer itu gak tahu kalau office-nya pindah. Jadi pas dapat offer kerjaan yang sekarang itu masih di San Mateo. Tapi kayak the first day joining the company itu kayak manajernya bilang, "Oh, next month we move to another office." That's how I ended up here. Jadi kayak office-nya mungkin sekitar empat puluh lima menit dari San Bruno sekarang, makanya decided to move here again.

So I used to live in Redwood City as well like-

1:58 Victor: Mungkin buat context untuk teman-teman yang gak tahu daerah Bay Area, berapa jauh sih dari San Francisco?

Adi: Yeah, I think that's a really good question. Jadi sekarang kita nyebut daerah ini tuh lebih kayak Silicon Valley. Jadi di Silicon Valley itu sendiri banyak kota-kota yang dijadiin markas buat kantor-kantor perusahaan-perusahaan teknologi. Dan dari San Francisco sendiri itu mungkin tergantung dari hari dan jamnya, tapi mungkin kalau enggak terlalu macet itu mungkin sekitar satu jam lah untuk nyampe ke sini dari San Francisco.

Tapi it varies a lot. Kalau the traffic is really, really bad, it can go up like two hours or even more.

Victor: Jadi baru masuk ya?

Adi: Ya, baru banget.

Victor: Baru berapa lama ini?

Adi: Sekarang bulan keempat.

Victor: Bulan keempat. Wah, tadi bilangnya senior product manager ya. Jadi product manager itu apa sih di Fanatics?

Adi: Ya, sebenarnya product manager itu gak ada definisi yang mungkin cukup general yang bisa menggambarkan role yang sama di perusahaan-perusahaan yang lain. Tapi kalau di Fanatics sendiri, product manager itu responsible untuk membangun roadmap. Jadi apa-apa aja inisiatif yang mau dibuat untuk produk yang di own dari si product manager itu. For example, I own what we call as dynamic landing pages. Jadi dynamic landing pages ini adalah the first touch point yang users lihat kalau misalnya mereka search product.

Mungkin taking a step back juga, Fanatics itu apa sih? Mungkin kalau di Indonesia, kurang tahu kalau Fanatics itu sebenarnya udah ada operations di sana, tapi mungkin banyak produk yang dijual ke Indonesia juga. Tapi si Fanatics ini sendiri itu banyak business lines. Bisnis yang pertama itu adalah bisnis yang pertama mereka bangun juga, itu kita nyebutnya sport, sports merchandise. Jadi itu ngejual kayak produk-produk olahraga, bisa jersey, bisa t-shirt, bisa topi, dan lain segala macam.

Jadi mirip kayak e-commerce market tapi khusus buat sports merchandises. Dan kalau sekarang itu responsible untuk nge-manage landing pages untuk orang-orang yang beli produk-produk olahraga ini. Kalau misalnya mereka search di Google, mereka lihat produk-produk ads di Meta, di Instagram. Ketika mereka klik si ads ini, mereka bakal land di yang kita sebut sebagai product pages. Jadi kayak product manager itu bakal responsible untuk ngebuat kayak feature apa yang harus dibuat di landing pages itu supaya orang-orang tahu kayak produknya itu apa.

Terus kayak kalau mereka punya konsiderasi-konsiderasi khusus, misalnya pengen beli produk ini tapi harus sampai minggu depan atau tiga hari lagi. Jadi kita harus berikan informasi yang diperlukan buat si pembeli, jadi mereka tahu kayak si produknya ini kualitasnya seperti apa, harganya berapa, dan lain segala macam. Jadi lebih untuk optimasi supaya informasinya itu bisa tersampaikan dengan baik ke user, dan kalau mereka bisa, mau beli produk itu, semua feature-feature yang ada di situ tuh lengkap.

Mulai dari product information, payment, dan lain segala macam. Jadi secara garis besar, responsibility yang sekarang itu di situ.

5:18 Victor: Oke, great.

Oke, ini bajunya dari Fanatics juga ya?

Adi: Ya benar, ini sebenarnya dari Fanatics, tapi sebenarnya sudah dibeli sebelum join Fanatics. Jadi sebenarnya sebelum Fanatics sendiri juga dulu sudah kerja yang ada hubungannya dengan olahraga. Soalnya dulu kerja di perusahaan, role-nya sama, product manager juga, tapi responsible for their partnership initiatives. Jadi di company yang lama namanya Rakuten, itu kita kerjasama sama beberapa klub olahraga, including 49ers. Jadi 49ers itu adalah klub sepak bolanya, tapi sepak bola versi Amerika di Bay Area.

Victor: NFL itu ya?

Adi: Ya, NFL. Dan dulu kita kerjasama sama Golden State Warriors, itu basketball team dari San Francisco. Sama ada namanya Valkyries, tapi ini buat yang women's basketball-nya. Itu kita kerjasama sama tiga klub olahraga itu dan lain sebagainya kita juga kerjasama sama payment partners. That's how I got like this merchandise.

Product manager itu ngapain sih? 6:27

Victor: Oke, going back to jadi product manager ini ya. Jadi apa sih yang susah sebagai product manager? Dan mungkin pertanyaan satu lagi itu, sekarang kan AI lagi bagus banget ya dan AI bakal lebih bagus lagi di masa depan. Jadi sekarang itu ngapain aja sebagai product manager? Kan tadi kan bilang dynamic product landing, jadi begitu klik satu advertisement di Meta, datang ke sini, dynamic page kan Mas Adi yang bakal manage apa yang keluar.

Apa sih yang susah dari itu? Soalnya kan saya sebagai orang awam yang gak pernah kerja di Fanatics kan kiranya kalau saya nge-klik baju dari Golden State Warrior, saya ke page Golden State Warrior, saya mau beli, gitu aja kan. Jadi apa sih yang susah di sana?

Adi: I think that's a really good question. Mungkin banyak orang yang masih gak tahu sebenarnya skill apa sih yang diperlukan, jurusan apa sih yang biasanya jadi product manager. Sebenarnya product manager itu role-nya cukup generalis, itu lebih tergantung ke produk apa yang di-manage sama si product manager itu. Misalnya kalau sekarang di Fanatics sendiri karena produknya itu lebih menjual produk-produk olahraga melalui e-commerce market ini, itu role-nya sebenarnya cukup general.

Sebenarnya banyak product manager yang perlu kemampuan technical khusus, misalnya dia perlu computer science training, tapi kalau role yang sekarang itu, itu gak terlalu perlu begitu technical. Dan sebenarnya kalau untuk jadi product manager itu kita sering nyebut product manager itu adalah CEO dari produk itu. Jadi just imagine you are kayak the owner of the product that you are selling to customers. Jadi apa aja yang diperlukan, jadi misalnya kalau ada orang marketing, ada orang engineering, itu sebenarnya adalah stakeholder-stakeholder dari si product manager itu.

Jadi kerjasama dengan orang-orang itu tanpa punya posisi sebagai manajer, kita nyebutnya influence without authority. Jadi kayak how to build the product dengan tim yang dari berbagai departemen itu, itu menjadikan suatu produk yang bisa digunakan oleh banyak orang. Dan AI ini sebenarnya tanpa AI pun sebenarnya product manager itu bisa bekerja, tapi tidak begitu efektif. Soalnya AI ini bisa membuat banyak pekerjaan yang lumayan logistik itu dikerjakan dengan cepat.

Misalnya product manager itu bertanggung jawab untuk membuat dokumen yang kita nyebut itu namanya product requirements. Jadi product requirements itu lebih ke men-detail out sebenarnya produk yang kita mau buat itu apa. Misalnya kalau sekarang di Fanatics sendiri itu kerjaannya itu inisiatif tahun ini kita nyebutnya dynamic landing pages. Jadi misalnya kalau pembeli itu nyampe di landing pages-nya Fanatics, itu kita buat personalisation. Jadi tiap orang itu harusnya gak ngeliat landing pages yang sama.

Misalnya kayak for me, kayak I'm a 49ers fans. Jadi ideally when I land on that landing page, itu gua ngeliat kayak produk-produk yang relevan dengan tim yang gua suka. Tapi kalau misalnya for Victor or other people, misalnya mereka suka Barcelona, mereka suka Golden State Warriors, jadi ideally mereka ngeliat produk-produk yang relevan dengan-

9:57 Victor: Lu bisa tahu dari mana? Misalnya kan aku fans-nya Real Madrid, tapi adekku fans-nya Barcelona gitu kan misalnya. Jadi gimana lu bisa tahu kalau gua fans-nya Real Madrid?

Adi: Ya, I think that's a good question. Jadi banyak angles yang kita bisa dapat data points itu. Misalnya pertama, orang-orang ini banyak touch point. Misalnya mereka datang dari Meta, mereka datang dari Instagram, mereka datang dari Google. Ketika mereka klik ads yang ada di sana, sebenarnya kita sudah tahu mereka itu sukanya produk yang apa. Soalnya ads yang kita kasih itu benar-benar beragam. Kalau misalnya mereka klik produknya Golden State Warriors, misalnya jerseynya Golden State Warriors,

jadi kita sudah ada gambaran, oh ini orang suka Golden State Warriors. Dan ketika mereka land on that landing page, itu banyak fitur-fitur yang lain kan. Ada homepage, ada team landing pages, terus itu banyak kayak program-program marketing yang lain within the site. Ketika mereka engage with those features and contents, itu kita punya data points yang lain. Jadi banyak data points yang sebenarnya bisa kita dapat dari internal sama dari partner juga.

Dan to some extent kita juga ada kerjasama sama perusahaan-perusahaan teknologi yang lain. Jadi ada marketing sharing juga, tapi of course kalau si customers-nya comfortable sharing the data, kita juga pakai data-data yang itu buat personalize their experience.

11:26 Victor: I see, I see.

A/B testing dan serunya di Fanatics 11:28

Victor: Jadi kan Fanatics ini menjual baju-baju paraphernalia for sports team ya. Dan as far as I understand, that means that the more they buy, the more money you make kan. Jadi it's about the conversion. Jadi dari your experience so far, apa sih yang penting untuk conversion? Like what is the biggest lever dan that if you change something tiba-tiba orang jadi like, you know, increase conversion a lot. Dan juga saya dulu kan sering baca-baca ya kayak Amazon change the color of the button dari blue ke red, terus mereka increase conversion twenty percent.

Ada gak sih yang cerita-cerita kayak gitu?

Adi: Ya, I think that's a really interesting question as well. Jadi untuk product manager sendiri dan bukan hanya di Fanatics, mungkin di perusahaan-perusahaan teknologi yang lain, experimentation itu lebih kayak budaya di perusahaan teknologi especially for people doing product management. Jadi kayak for every new feature yang kita build, yang kita owns, itu most of the time we will do like experiment, we will do A/B testing. Jadi kayak we start with what we have today, which is the A variant.

Dan ketika kita buat feature baru, itu kita buat B variant. So-

12:45 Victor: Coba, coba explain A/B testing supaya mamamu bisa ngerti.

Adi: Yes, of course. Jadi A/B testing itu simpelnya, kalau gua baru launch a new product, let's say Apple Pay. Jadi Apple Pay itu gak ada sekarang di landing page-nya. Tapi kalau kita mau tes apakah konversinya bakal lebih bagus kalau kita sediain Apple Pay. Mungkin orang biasanya bayar itu pakai credit card. Jadi instead of allowing people to just use like credit card, kita bisa buat Apple Pay. Kalau orang udah punya Apple Pay, payment-nya itu jadi lebih seamless.

Jadi kalau ada seribu orang yang arrive on that landing page, itu lima ratus orang bakal gak ngelihat Apple Pay sama sekali di landing page-nya. Dan lima ratus orang yang lain itu bakal ngelihat Apple Pay. Dan kita bandingin dari lima ratus orang yang pertama, apakah konversinya lebih bagus dari lima ratus orang di varian kedua. Jadi that's how we do like experimentation.

13:55 Victor: Jadi ya, control and treatment ya. Ini sama kayak lagi mau ngetes medicine or any other things, any experimentation. Oke, oke, cool. Jadi sebagai product manager, lo dapatin signal-signal dari lain, personalization, experimentation, apa lagi sih yang seru?

Adi: Sebenarnya yang kerjaan yang seru itu lebih ke bisnisnya ya.

Victor: Bisnis ya.

Adi: One of the things that I like about working at Fanatics, it's not just like doing the work, but it's basically building something for something that you are passionate about. Jadi for me, kayak I grew up watching soccer a lot. Kayak nonton Messi di Barcelona.

Victor: Dulu tim favoritnya apa?

Adi: Barcelona.

Victor: Barcelona.

Adi: Mungkin ada beberapa tim yang gua juga suka kayak Chelsea. Real Madrid is probably like my rival. So I think especially like growing up outside of the US, soccer is definitely the number one sports. Dan ketika nyampe di US, it's probably like a really different market. So soccer is not like, for whatever reason, like it's not number one sport like in the US. Masih banyak yang lebih populer for whatever reason.

Ada US football which is NFL, ada basketball, and ada baseball. Tapi dari kerja di Fanatics itu, I have the opportunities to tap into all of this liga atau kegiatan olahraga. Bahkan just recently, mungkin banyak yang nonton Piala Dunia juga. Jadi Fanatics itu juga punya, so Fanatics itu adalah the only operator of in-venue retails di stadium. Jadi di semua stadion sepak bola pas World Cup itu diadain, Fanatics itu yang ngejual jersey dan lain sebagainya.

15:58 Victor: Yang lain gak boleh, Fanatics doang?

Adi: Gak boleh. Jadi kita yang punya the sole license untuk ngejual produk kayak within the stadium itself. Dan banyak juga kayak kegiatan-kegiatan offsite di perusahaan itu yang emang nonton langsung.

Victor: Dapat tiket gratis gitu ya.

Adi: Dapat tiket gratis dan bukan tiket doang yang nonton dari bangku-

Victor: Executive box gitu ya.

Adi: Dapat executive lounge juga, ada beberapa treatment khusus juga. Dan selain itu, Fanatics ini juga gencar banget ngadain event-event, not just like sports events, tapi ada entertainment-nya juga. Jadi recently, ini acara tahunannya Fanatics, kita ada yang namanya Fanatics Fest. Itu kita bahkan nyebutnya kayak fashion week yang sering diadain di New York, tapi the Fanatics Fest itu kayak version-nya fashion week tapi buat olahraga. Jadi di bulan Juli kemarin, literally kayak on the same day itu final Piala Dunia di New York. Itu bukan cuma sehari doang, itu empat hari kegiatannya. Itu kita ada dua ratus ribu fans yang datang ke event itu selama empat hari, dan di event itu, itu banyak banget kayak selebriti, sport athletes yang datang.

Messi datang, Rodri datang, Tom Brady, itu salah satu legenda di NFL, itu juga datang, ada Justin Bieber juga. Jadi itu kayak event-nya emang benar-benar gede dan ada sampai ratusan ribu orang yang datang, dan itu yang ngadain Fanatics itu. Jadi kayak biarpun ini kerja, tapi kayak to some extent itu kita enggak ngerasa benar-benar kerja.

17:39 Victor: Kayak festival olahraga lah ya.

Adi: Kayak festival olahraga, dan bahkan pas Piala Dunia kemarin itu banyak banget orang yang literally enggak kerja, enggak meeting pas pertandingan itu dimulai. Jadi kayak orang-orang emang sambil nonton sambil kerja gitu, atau bahkan kayak drop your work and then just watch the game.

Victor: Jadi kalau lo suka olahraga, Fanatics itu tempat bagus banget.

Adi: Iya benar.

Victor: Kalau suka nonton bola, suka nonton yang lain, join Fanatics. Ada iklannya nih.

Adi: That's the moral point.

Dari Kabanjahe ke Teknik Kimia ITB 18:11

Victor: Iya. Oke, sebelum kita move ke kerjaannya lain, I want to go back to: Mas Adi itu dulunya dari mana sih?

Adi: Ya, jadi gua itu grew up in a very small town, mungkin banyak yang bahkan enggak pernah dengar atau enggak tahu. Dulu dari, nama kotanya itu Kabanjahe. It's like a really small town like in North Sumatra.

Victor: Kebun jahe?

Adi: Kabanjahe.

Victor: Kabanjahe.

Adi: Jadi itu emang daerah yang lumayan terkenal untuk ngehasilin produk-produk pertanian. Misalnya kayak jeruk dan kopi.

Victor: Tapi enggak jahe?

Adi: Jahe mungkin one of them, mungkin one of them, tapi it's not like their big produce. Dan dulu emang tinggal di situ sampai SMA dan setelah itu baru pindah ke Bandung untuk kuliah.

Victor: Oke, di Bandung, ITB ya?

Adi: Iya benar.

Victor: Kuliah apa di sana?

Adi: Dulu ngambil jurusan namanya Teknik Kimia.

19:11 Victor: Teknik Kimia, tapi kok jadinya jadi Product Manager nih?

Adi: Jadi sebenarnya Teknik Kimia itu, biarpun sebenarnya jurusannya itu adalah untuk melatih orang-orang menjadi engineer, tapi sebenarnya lulusannya itu, itu ada di mana-mana, dan jangan heran banyak yang kerja di bank juga.

Victor: Oke, kok bisa?

Adi: Soalnya engineering itu sebenarnya lebih ngelatih untuk pola pikirnya, structure problem solving. So essentially giving you the foundation untuk succeed di any role that you can think of. Dan kenapa ngambil Chemical Engineering, dulu sebenarnya ngelihat market itu, oil and gas is probably one of the sexiest industry during that time. Dulu gua ngambil Chemical Engineering so I can tap into in that industry, tapi in the same time I also like want to be flexible.

Soalnya dulu di ITB juga ada Teknik Perminyakan, tapi kayak I feel like if I just ngambil jurusan Teknik Perminyakan, mungkin kayak opportunities-nya itu lebih limited. Jadi gua ngambil Chemical Engineering, so if things happen gua masih bisa pivot ke industri yang lain.

20:28 Victor: Pernah kerja di kimia?

Adi: Dulu sempat pernah juga. Jadi dulu pas kuliah di Teknik Kimia itu kita ada nama program, ada nama, ada program namanya kerja magang atau lebih intensif. Itu dulu ke pabrik urea yang ada di Gresik. Jadi dulu selama tiga bulan itu jadi process engineer dan emang beneran ke pabrik ngecek-ngecek suhu, tekanan di alat-alat yang ada di pabrik itu. Sebenarnya kerjanya dulu juga menarik, tapi it's kind of like in the middle of nowhere juga.

Tapi kayak the experience is really good. I actually like the job itself. Tapi mungkin kayak one thing yang gua, jujur aja, banting setir ke industri yang lain: compensation is also important. Soalnya kayak you can get like more money actually and you can get more exposure like to other like brilliant people di industri-industri yang lain. Dulu sebenarnya awalnya bukan di product manager, tapi bahkan sebenarnya dulu awalnya consultant.

Gagal LPDP, malah masuk BCG 21:45

Victor: Oh iya, iya betul. Jadi habis kuliah ini terus kerja di consulting ya? Gimana tuh?

Adi: Jadi dulu awalnya sebenarnya enggak ada niat ke consulting sama sekali. Jadi dulu sebenarnya setelah lulus dari Teknik Kimia pengennya langsung S2.

Victor: Langsung S2?

Adi: Pengen langsung S2 sebenarnya. Jadi dulu udah sempat daftar S2, udah sempat dapat LOA-nya juga.

Victor: Di mana itu daftarnya?

Adi: Dulu daftarnya bahkan ke US juga sebenarnya. Dulu dapat beberapa kampus, tapi bukan di kampus yang tujuannya sekarang, soalnya tujuannya dulu masih Chemical Engineering. Dulu dapat di Texas sama dapat di New York juga.

Victor: Tapi enggak masuk ya? Enggak jadi ke sana.

Adi: Enggak jadi ke sana soalnya enggak ada beasiswanya. Dulu karena enggak ada beasiswa, dulu sempat daftar LPDP juga, cuma waktu itu belum keterima, dan sebenarnya itu yang jadi turning point-nya. Jadi kayak setelah enggak keterima LPDP, oke, jadi kayak mutusin buat kerja. Kerja di bank. Ngeliat industri-industri yang ada. Dulu sebenarnya nyebar aplikasi juga enggak harus kerja ke perusahaan yang related ke teknik kimia, dan ngeliat sebenarnya dulu banyak banget jurusan, lulusan teknik kimia itu yang kerja di konsultan juga.

Dan itu orang-orang yang emang the best of the best dari lulusan teknik kimia itu. Jadi lumayan ngerasa inspired to also follow the same path, dan benar-benar sebenarnya ngerasa grateful juga kayak enggak dapat beasiswa itu, soalnya kayak that's how I got into this consulting job.

23:33 Victor: Iya, iya. Ini namanya apa ya, satu pintu tertutup, yang lain buka ya. Jadi jangan sedih kalau satu enggak jadi, soalnya hidup bakal lanjut terus.

Adi: Correct.

Victor: Iya, iya. Oke, jadi masuk ke mana itu consulting?

Adi: Jadi itu ada perusahaan konsultan yang juga dari Amerika, itu namanya Boston Consulting Group.

Victor: BCG ya?

Adi: Ya, benar.

Victor: It's one of the top ones.

Adi: Yes.

Victor: Kok bisa masuk? Gimana tuh?

Adi: Sebenarnya dulu it's not just because, apa ya, kayak I work really hard like to get into that job. Dulu sempat kerja juga di Pertamina right after, setelah lulus itu dulu sempat kerja di Pertamina, dan dulu Pertamina itu make banyak banget konsultan. Dulu kerjanya itu di bagian mega proyek. Jadi dulu kita make banyak banget konsultan, dan bahkan dulu teman jurusan yang satu angkatan itu ketemu randomly di Pertamina, tapi dia kerjanya sebagai konsultan.

Dan uniknya lagi, pas dulu kerja di Pertamina, kayak tiap lantai itu, itu konsultannya beda-beda. Bahkan di satu lantai itu bisa pakai dua konsultan yang berbeda. Dan dulu kayak manajer yang di Pertamina itu juga nyaranin, kayak udah, kerja di konsultan aja. Soalnya prospeknya bagus, gajinya gede, dan dulu mereka banyak banget proposal.

25:02 Victor: Jadi Mas Adi dulu tuh di Pertamina sebagai konsultan atau sebagai orang dalam tuh?

Adi: Sebagai orang dalam.

Victor: Oke, jadi temannya yang konsultan dari ITB juga.

Adi: Ya, dari ITB juga. Dan dulu sebenarnya keterima di BCG itu, dari semua interview-interview yang ada dan job offers yang ada, emang BCG ini yang prospeknya paling menarik. Prospeknya paling menarik, dan untuk keterima di BCG ini sebenarnya dulu latihannya juga lumayan intensif. Dan mungkin keuntungannya juga kuliah di ITB, itu banyak banget orang yang juga dapat job offers yang sama, bukan cuma di BCG aja, tapi di kompetitors-nya juga banyak banget.

Dan di sana mereka juga lumayan ngebantu pas proses awal. Jadi mereka nyeritain proses mereka untuk bisa keterima di perusahaan konsultan itu seperti apa, dan mereka bahkan juga sharing kayak soal-soal yang latihan yang mereka pakai. Soalnya di BCG, dulu di BCG uniknya itu langsung interview. Enggak ada kayak tes-tes psikologi atau apa segala macam, tapi interview di BCG itu lumayan unik. Soalnya kita disuruh untuk menyelesaikan suatu studi kasus yang mereka kerjain untuk konsultasi sehari-hari mereka.

26:30 Victor: Oh, memang jadi case yang real gitu ya, bukannya bohong-bohongan.

Adi: Jadi sebenarnya ada hitungan-hitungannya juga. Jadi untuk datang ke interview itu emang harus benar-benar practice. Jadi kita juga mungkin, dulu jujur aja, lumayan dapat insider knowledge juga dari teman yang kerja.

Interview di BCG kayak gimana? 26:49

Victor: Coba itu Ron kasih, kasih kita sampelnya kayak gimana sih? Ini kan pasti soalnya udah beda, udah berpuluh-puluh tahun ya. Jadi coba tanyain saya, gimana tuh interviewnya? Masih ingat nggak?

Adi: Mungkin kayak one of the examples is probably: what is the market size of sports jersey like in the US?

Victor: Oke, the market size. Jadi ini kayak not really getting to the actual number but want to see your thinking process. Is that the kind of thing?

Adi: The thinking process is like the gist of this interview process. So they will assess you on how you actually break down like the problems and build it like bottom up. The actual like number that you get is probably not the most important one, but you still need to come up with the number.

Victor: Yes, yes. This is like ada interview yang kayak lebih banyak apa sih, ban mobil atau pintu. Ada kayak gitu enggak? Jadi kan lu mesti kayak itungin, oh kira-kira ada berapa orang di US, sama kan kayak yang jersey, berapa orang di US, three hundred fifty million. Dari three hundred fifty million, berapa sih yang bakal nonton bola, nonton sports? Let's say half of it. Jadi kan hundred twenty five million kan.

Dari hundred seventy five million. Jadi hundred seventy five million, kalau misalnya half of it wants to buy jersey once a year, jadi your sales will be around that much, gitu kan. Is that the kind of thinking that BCG is looking for?

28:27 Adi: Ya, so usually people come up with a good framework like in the beginning. Even they usually like ask for quite some time like in the beginning, maybe one to two minute, like just to process their thought on how they come up with all of these numbers. And usually like your communication matters as well, because one of the things that these consultants are looking for is what we call is usually as airport test.

So if you let these people go and talk with client, are you comfortable like letting this person like manage like their senior client?

And you are also looking for somebody that, you know, can basically talk and manage the relationship with others. So, let's say if you are stuck at the airport, do you think that this person will be able like to basically build like some topics and talk with the client itself?

29:30 Victor: Jadi, it's not just the logic, ya. Tapi communication is super important too.

Adi: Yeah. Yeah, so I think at BCG itself, I think I still remember some of the key skills that they are looking for. One is problem solving and insight. So, this is basically your ability like to break down the problems and then resolve like the one, one of the probably the most pressing issues in business. And then two is effective communication. So, and last but not least is practicality. Because sometimes like you can probably just ask like ChatGPT, "Hey, how would you resolve like this problems?" But there are probably like a lot of nuances that you need to take into consideration. Jadi practicality itu juga dinilai ama si hiring managernya.

And that's something that you can actually test like using all of these case studies.

Victor: Jadi misalnya case study yang tadi itu ya, how many sales in the US. What would be jawaban yang bagus?

30:34 Adi: Jawaban yang bagus itu biasanya itu start with framework. Jadi sales itu apa sih? Itu kan price times quantity.

Jadi you have to start from there. And then pas awal itu juga biasanya clarify the question. For example, kayak who is the target audience?

What kind of, like, sport jersey that we are thinking. Is it limited to certain sports? Misalnya kayak apakah cuma jersey buat NFL atau buat yang lain. Dan bisa juga di-breakdown, apakah kita menjual sport jersey yang for everyday people atau buat the athlete.

Jadi sebenarnya the thinking process is really important. When you are able like to-

Victor: I see.

Adi: ... articulate like all of those points, they know that you are probably like one of the top candidates. Because I think people will be able like to come up with an answer for this type of question. Tapi kayak the thinking process like behind how you come up with this number is probably like the most important one that they are assessing.

31:48 Victor: Itu gimana mau belajarnya, Mas? Jadi kan tadi Mas Adi bilang sebelum interview ini mesti training banyak ya. Training-nya gimana tuh?

Adi: Jadi sebenarnya yang pertanyaan yang tadi itu cuma one of the many possibilities yang mereka bisa-

Victor: Jadi training-nya tuh kayak list-nya ya.

Adi: Ya, ya.

Victor: Kita dulunya dia nanya ini, ini, nih, jadi kita mesti latih itu, itu.

Adi: Ya, jadi sebenarnya banyak banget. Ada profitability case juga.

Jadi ngitung profit. Ada juga yang ngitung kapan bakal break even.

Jadi sebenarnya pertanyaannya itu juga lumayan variatif. Terus yang ngebuat lumayan unik juga, consulting is, itu banyak banget yang nyari generalis. Jadi kita enggak tahu bakal dites di banking industry di industrial goods atau di logistics use case. Dan sebenarnya itu udah ada case banks-nya juga. Jadi orang-orang yang udah melalui that kind of process, itu banyak banget yang jadi mentor.

Banyak banget yang ngebuat bisnis out of it juga. Jadi mereka kayak bikin semacam case banks, ngumpulin soal-soal sebelumnya, ngasih framework-framework, jawaban-jawaban yang mungkin bagus. Soalnya mereka juga mungkin enggak tahu juga sebenarnya jawaban yang bagus itu seperti apa.

Jadi sebenarnya udah banyak soal-soal latihannya juga. Jadi mirip kayak-

33:10 Victor: I see.

Adi: ... ujian.

Sebelum ujian tuh udah, kadang-kadang udah dikasih kayak sampel-sampel soal di tahun sebelumnya gitu.

Victor: Iya, iya. Betul, betul. Ini kayak di software industry juga ya. Jadi begitu orang mau masuk ke Google, masuk ke Apple, masuk ke Meta, banyak tuh soal-soal yang sudah ditanyain, kan.

Adi: Ya, LeetCode.

Victor: Terus, Leet-LeetCode dan system design yang lain-lain juga kan, behavioral. Terus kita ya belajarlah dari itu. Cariin yang... Ya sama lah ya.

Hidup jadi konsultan di BCG 33:37

Adi: Ya, sama.

Victor: Oke, jadi kan habis interview terus masuk ke BCG gitu kan. Kemarin tuh di Pertamina sebagai orang Pertamina ada consultant. Habis itu kamu jadi consultant ke Pertamina, enggak?

Adi: Jadi di BCG itu kita enggak boleh nyebut nama klien.

Victor: Oh, enggak boleh ya. Oke, enggak boleh. Jadi jangan disebutin.

Adi: Iya, enggak boleh nyebut nama klien. Tapi enggak, enggak, enggak kerja di Pertamina. Itu-

Itu I can fully confirm. Tapi dari kerja di BCG itu sebenarnya kerja banyak banget industri, tergantung project-nya, lagi ngerjain project apa.

Victor: Kenapa enggak boleh nyebutin? Saya kemarin di PwC enggak pernah ada peraturan kayak gitu.

Adi: Jadi one of the things yang ngebuat konsultan itu unik, yaitu many times kita ngerjain project yang emang cukup confidential.

Yang misalnya perusahaan A mau ngebeli perusahaan B.

Jadi kalau ada insider knowledge dan orang lain tahu, mereka bisa do something yang nge-counter that movement atau strategy.

Dan many times itu juga kita kerja emang sama board of directors-nya, sama C-suite leaders. Jadi kerjaan yang mereka kasih ke konsultan itu biasanya some of the most pressing issues yang mereka kerjain sekarang. Jadi kenapa kita enggak boleh nyebut nama kliennya, jadi supaya orang lain nggak tahu apa yang kita kerjain, that's one. And then two, gara-gara kita nggak kerja sama perusahaan yang itu, jadi sebenarnya kita mungkin kayak bisa jadi ngebocorin rahasia ke yang lain. Jadi itu mungkin lebih ke policy-nya si konsultan ini untuk make sure si kliennya itu ngerasa comfortable kalau si konsultannya mereka yang kerja bareng itu ngejaga rahasia perusahaan.

35:31 Victor: I see, that makes sense. Kayak kemarin saya di PwC itu, begitu mau kerja, dapat proyek di perusahaan ini, kita mesti ngecek lu punya stok perusahaan itu apa enggak. Karena kalau punya, atau kompetitor, it's like insider trading, right, kayak gitu ya. Jadi it's like not allowed. Oke cool, jadi BCG gimana tuh, berapa lama di sana?

Adi: Dulu di BCG mungkin hampir empat tahun kali ya, mungkin tiga setengah gitulah.

Victor: Tiga setengah tahun ya, terus Mas Adi jadi one of the top consultant ya. Gimana itu Mas, gimana bisa tahu kalau top consultant itu, emang ada kayak ujiannya, terus ranking-nya gimana tuh taunya?

Adi: Jadi dulu di BCG itu kalau yang di pengalaman ke belakang itu lebih ke nyebutnya BCG Analytics University. Jadi di BCG itu sebenarnya banyak banget program-program ya, dan Analytics University ini dulu salah satu program yang gue ikutin. Nah, in order for you to be eligible for this program, itu mereka ngadain seleksi. Seleksinya itu lumayan ketat juga. Jadi dari BCG Southeast Asia, bukan Southeast Asia doang, Asia Pasifik sama Australia, itu mereka ngebuat semacam form untuk ngelihat kayak pengalaman kerja kita yang menggunakan analytics tools.

Analytics tool itu kayak Alteryx, kayak Tableau. Jadi Alteryx itu lebih ngebuat data itu lebih terstruktur. Jadi bisa dipakai, jadi clean up the data, structuring the data, so we can generate insights. Kalau Tableau itu lebih kayak memvisualisasikan data itu supaya orang bisa digest kayak what this data is. Jadi dulu masukin aplikasi itu, dan itu lumayan selektif, dan terpilih untuk jadi sekitar dua puluh lima orang kayak BCG Consultants di Asia Pasifik sama Australia untuk ngikutin program BCG, dulu diadain di Singapura.

Jadi orang-orang BCG Consultants yang dari berbagai office itu emang pergi ke Singapura untuk mendalami analytics itu lebih dalam lagi, dikasih pembekalan lebih khusus lagi. Jadi setelah keluar dari program itu, bahkan kita jadi lebih advance lagi di analytics. Bahkan dulu gue inget Python itu juga diajarin di situ.

38:14 Victor: Oh ya dong.

Adi: Bahkan gue nggak ada background sama sekali, tapi Python itu...

Victor: Tapi kayak Tableau gitu kan you must write the scripts too, right? Like you must know where to get the data, mau divisualisasi kayak gimana, itu diajarin semua di BCG ya?

Adi: Dulu kita lebih ke bukan yang pakai scripts, itu mungkin lebih advance lagi ya. Dulu kalau di BCG itu lebih ke drag and drop sih sebenarnya. Sebenarnya Tableau itu benar-benar simple kan. Dulu kita kayaknya cuma training satu minggu, itu udah tahu tuh pakai Tableau itu kayak gimana. Nggak sampai se-advance itu. Kalau untuk yang kerjaan di perusahaan teknologi sekarang emang ada write script juga, tapi itu juga nggak terlalu dibutuhin sebenarnya.

Soalnya ada analytics team, ada data science team. Di BCG juga sama. Dulu BCG ada namanya BCG Gamma. Mungkin bukan BCG Gamma lagi namanya. Mungkin udah yang lain. Tapi intinya mereka yang bakal nge-support kalau role-nya itu udah lumayan technical.

Kenapa milih Amerika 39:17

Victor: Oke, Pak. Jadi kemarin di BCG udah empat tahun lebih, terus gimana tuh habis itu, langsung ke US habis itu?

Adi: Ya benar. Jadi dulu emang setelah kerja kurang lebih tiga setengah tahun di BCG, sebenarnya dulu salah satu tujuannya kenapa kerja di BCG itu sebenarnya supaya lebih tahu industri yang paling cocok itu sebenarnya apa. Jadi selama di BCG dulu dapat exposure itu banyak banget. Sempat kerja di project infrastructure. Ingat banget dulu sempat jam dua pagi ke jalan tol, itu ngecek-ngecek jalan, pastiin teknisinya beneran ngerjain. Dulu ada semacam maintenance, jadi dulu ada perusahaan yang pengen ngebeli si owner dari si jalan tol itu.

Itu project pertama kali.

Victor: Jalan tol itu bisa dijual beli?

Adi: Ya, itu dijual beli juga.

Victor: Wow, gua gak tahu loh.

Adi: Ada yang dimiliki sama swasta. Jadi nggak semua jalan tol itu punyanya pemerintah. Dulu yang punya swasta itu ada perusahaan asing dari Amerika yang ingin membeli. Jadi dulu dia nge-hire BCG untuk kayak ngevaluasi ini growth-nya sebenarnya ada atau enggak.

40:35 Victor: Itu kayak M&A due diligence gitu ya?

Adi: Benar. Itu project-nya benar-benar singkat. Dan setelah itu dulu sempat kerja di industri timber juga, itu kayak produk-produk kayu, ngebuat meja, ngebuat rumah, truck part, piano part. Jadi emang kerjaannya itu juga lumayan menarik, soalnya bayangin aja kerja infrastructure terus itu tiba-tiba loncat ke industri kayu. Itu dulu lumayan sering juga ke daerah-daerah terpencil, soalnya pabrik-pabrik itu biasanya daerah terpencil untuk sourcing kayu. Dan sempat ke perusahaan telekomunikasi, perusahaan teknologi, perusahaan e-commerce juga, dan dari semua industri itu yang ngerasa yang paling menarik itu perusahaan teknologi.

Soalnya di situ inovasi itu benar-benar ada, semuanya benar-benar cepat, dan setelah punya pengalaman itu, kalau misalnya mau kerja di BCG lagi sebenarnya masih bisa, tapi ngerasa US itu adalah pusat dari teknologi. Banyak banget produk-produk yang benar-benar luar biasa, Apple, Mac with iPhone, terus itu Facebook, Instagram, datangnya dari Silicon Valley. Jadi sebenarnya terinspirasi dari itu, dan kenapa milih US. Bahkan dulu nggak apply sama sekali ke sekolah yang lain dari luar US, dan sebenarnya yang lain yang gue lihat itu, itu banyak banget orang-orang leaders di Indonesia itu yang memang lulusan Amerika.

Yang dari BCG sendiri pun itu partners-nya itu hampir semua itu lulusan Amerika. Biarpun mereka S1-nya di Indo, tapi S2-nya itu rata-rata dari US. Jadi sebenarnya dua hal yang itu, industry exposure sama ngelihat orang-orang sukses, kenapa milih US as my destination.

42:31 Victor: I want to go deeper here ya untuk consulting, karena what you brought up, it's a really good point. Kalau consulting itu tuh bagus banget untuk dapat exposure ke banyak-banyak itu bidang ya. Jadi kan Mas Adi kan di BCG dapat jalan tol dan lain-lain. Saya kemarin di PwC dapat kayak banking ada, di universitas ada, di utilities ada, jadi apa aja ada gitu kan sebagai konsultan, dan juga saya punya apa...

Ada ipar saya, dia consulting di China, dia bilang dari parfum sampai kopi sampai alat berat ada aja semua. Jadi I think it's like kalau teman-teman yang masih belum tahu mau masuk ke mana gitu kan, consulting itu sebenarnya bagus banget ya.

Adi: Benar.

Daftar MBA dan visa pas Covid 43:22

Victor: Jadi apply-apply ke universitas di US, terus ke mana itu dapatnya?

Adi: Jadi dari universitas itu milih ke Cornell sih.

Victor: Cornell. Apply-apply itu susah gak?

Adi: Sebenarnya susahnya bukan karena persyaratan universitasnya susah, tapi gimana caranya nge-manage waktu sih. Soalnya untuk daftar ke universitas itu, itu sambil kerja kan, bukan ambil cuti. Sama in the same time itu ada beberapa persyaratan juga yang emang perlu persiapan. Misalnya perlu TOEFL, perlu GMAT, perlu buat essay dan administrasi-administrasi yang lain. Dan sebenarnya yang lain juga yang jadi pertimbangan itu adalah biaya. Jadi sebenarnya dari semua faktor itu, untuk mempersiapkannya itu juga nggak perlu, nggak cuma sedikit waktu, itu juga bisa sampai berbulan-bulan, dan apalagi dengan work life balance di consulting yang lumayan demanding.

Jadi itu sebenarnya lebih mengatur waktunya sih. Tapi sebenarnya si sekolah-sekolah itu juga tahu orang-orang yang emang pernah kerja di industri itu, itu jadi lebih tahan banting. Jadi sebenarnya itu kayak ada pros and cons-nya juga. Mungkin punya waktu lebih sedikit untuk mempersiapkan aplikasi, tapi dari segi pengalamannya itu ngebantu banget untuk siap untuk sekolah lagi gitu.

44:56 Victor: Kemarin ke US itu pakai beasiswa nggak, Mas?

Adi: Dulu ada beasiswa juga, tapi bukan beasiswa pemerintah. Tapi sebenarnya dulu lebih ke macam-macam sih, ada yang pakai dana pribadi juga, soalnya udah emang sempat kerja lama di consulting dan duit consulting itu juga benar-benar membantu. Sama dulu ngambil ada loan juga sih.

Victor: Oke, oke, sip sip. Terus ke Cornell, terus proses visanya gimana tuh Mas?

Adi: Ya, I think this is probably a very interesting one. Soalnya dulu mungkin orang-orang sekolah itu oke, langsung datang ke sekolah, tapi dulu visanya itu juga lumayan unik, kayak I probably have like a very unique experience dan mungkin banyak orang yang enggak ngalamin. Soalnya itu dulu pas jaman-jaman Covid. Jadi dulu pas mau mulai kuliah, itu mungkin awal tahun itu Covid itu mulai masuk tuh ke Indonesia. Mulai masuk ke Indonesia, dan kayaknya pertengahan Maret itu banyak banget yang office-office, embassy itu mulai tutup tuh, mulai tutup.

Dan dulu keterimanya itu mungkin sekitar Januari, Januari di tahun itu, dan emang udah mutusin kayak I wanna go to school regardless Covid ada. Maksudnya kan kayak belajar online is not that bad actually. Jadi waktu itu untuk dapat visanya itu lumayan terlambat. Jadi dulu prosesnya emang sama, tapi nunggu situasi lumayan aman dulu. Baru waktu itu kayaknya sekitar September atau Oktober US Embassy itu mulai buka lagi. Tapi mereka cuma buka bener-bener limited spots, dan mereka biasanya mereka ngutamain orang-orang yang punya keperluan khusus, bukan buat jalan-jalan.

Jadi waktu itu dapat visanya November, tapi baru ke US itu awal Januari.

47:06 Victor: Jadi mulai sekolahnya ketelatan, jadi sempat di Indonesia kuliah remote gitu?

Adi: Ya, bener.

Victor: Oke, jadi kuliah remote dulu, baru dapat visa, baru bisa ke kampus.

Adi: Iya bener, tapi sebenarnya enggak terlalu beda juga, soalnya biarpun banyak yang udah di US, tapi sebenarnya mereka juga-

Victor: Harus remote juga.

Adi: Ya, mostly remote. Sebenarnya bisa ke kampus, tapi kalau ke kampus itu lumayan ribet, soalnya harus tes-tes Covid lagi. Dan dulu pas awal-awal itu kayak frequency tesnya itu bener-bener intense. Jadi bisa sampai tiga kali sehari, maksudnya kayak it also takes time kan, soalnya juga harus datang ke testing site-nya, dan lumayan ngebuang-buang waktu sih sebenarnya. Apalagi mungkin banyak yang enggak tahu juga, sebenarnya MBA itu yang paling penting itu semester satu.

Victor: Kenapa?

Adi: Soalnya recruiting happens itu semester satu.

Victor: Why? I don't understand, kenapa semester satu? Kan baru masuk.

48:08 Adi: Maksudnya kan si orang-orang MBA candidates ini itu mostly, mungkin kayak ninety five percent plus, itu udah punya working experience. Biasanya kayak perusahaan-perusahaan itu emang udah punya konteks si orang ini bagus di bidang apa.

Victor: I see. Jadi mereka semester satu supaya masukin, dapatin dulu. Jadi kalau nanti udah selesai, dia udah ada arrangement gitu ya.

Adi: Bahkan ada beberapa orang yang udah keterima sebelum MBA-nya mulai. Ada yang kayak gitu juga.

Victor: Kayak gitu ya. Jadi gimana itu kemarin pas MBA, terus kan semester satu paling bagus, paling penting, terus dapat itu, dapat recruit ke mana gitu habis itu?

Adi: Waktu itu dapat beberapa internship offers, tapi waktu itu milih ke Rakuten sih, dan it's partly because of that sports.

Victor: Jadi emang dari dulu udah hobi ke olahraga ya?

Adi: Ya, bukan hobi bermain, tapi lebih ke kayak sport fans lah. Sama sebenarnya Fanatics itu lebih kita mission-nya kayak amplify the fans experience. Itu bukan buat orang atlet, bukan buat orang yang suka bermain, tapi yang emang supporting-

49:23 Victor: Suka nonton.

Adi: Ya, supporting the fans itself.

Victor: I see, I see.

Cornell: kuliah di tengah antah berantah 49:27

Victor: Oke, oke, jadi ya, go back to the experience si MBA ya, MBA di Cornell itu. Jadi how is it like, MBA di Cornell?

Adi: I think that's probably kayak the best two years of my experience after college for sure. Soalnya kayak pengalaman kuliah di ITB itu sebenarnya juga bagus banget, menarik banget, banyak banget pelajaran yang didapat. Dan di Cornell ini, itu mungkin gara-gara di Indonesia itu kayak beda banget budayanya ya sama di US. Jadi Cornell ini kayak lebih ke bukan cuma buat sekolah doang, tapi kayak untuk belajar gimana caranya bisa beradaptasi dengan budaya yang lain.

Dulu sebenarnya sebelum ke Cornell juga sempat student exchange juga ke Germany. Dulu sempat winter semester juga di-

Victor: Ke kota mana?

Adi: Nama kotanya Kassel. Jadi itu kayak the southern part of Germany. Dulu sebenarnya itu exposure pertama gimana tinggal di luar negeri. Dan dulu banyak teman-teman kuliah di sana, biarpun di Jerman tuh banyaknya emang mahasiswa asing di program yang itu. Dan mungkin delapan puluh persen dari pesertanya itu dari US sama dari Aussie. Jadi dulu sebenarnya udah emang salah satu yang ngebuat tertarik ke US juga emang dari pengalaman ini.

Emang ngerasa kayak orang-orang US itu emang gimana ya, mereka itu benar-benar aktif kegiatan-kegiatan studi kayak gini dan mereka itu benar-benar bagus dalam hal komunikasi. Dan di Cornell sendiri itu, itu sebenarnya lebih networking sih. Dan sebenarnya kalau dari segi mata kuliah, kuliah di ITB itu lebih sulit. Untuk dapat grade yang bagus di ITB itu jauh lebih sulit, bukan lebih sulit doang, jauh lebih sulit daripada dapetin grade A di Cornell, jujur aja.

Dan orang-orang di Cornell itu juga enggak terlalu, at least di MBA, mungkin I cannot generalize. Mungkin undergrad itu lebih intense, tapi kalau MBA itu orangnya lebih nyantai. Soalnya they know that this is their time like to basically, apa ya, kayak kita nyebutnya kayak two year vacation. Apalagi orang-orang yang dulu kerja di investment banking, di consulting, dan gara-gara recruitment happens on the first semester, once you secure your job, kayak udah, habis itu ya udah, kayak it's basically for social life.

Dan dulu kenapa gua ngambil Cornell juga, soalnya gua ngerasa Cornell itu adalah kampus terbaik buat, especially for people with my background, itu untuk bisa belajar budaya di US. Soalnya kayak you live in the middle of nowhere. Untuk yang gak tahu, Cornell itu lima jam dari New York. Nah, jadi kotanya itu bukan, itu mungkin bukan kota, itu mungkin lebih mirip kayak desa bahkan. Itu benar-benar terpencil, it's a college town.

Jadi emang banyaknya itu mahasiswa, dan teman-teman your class mates itu juga they don't have anybody ya. They don't have orang-orang yang mereka bisa pergi bareng untuk kayak social events other than your classmates. Jadi kayak, kalau mungkin kalau kuliah di LA, kuliah di Boston atau di New York, itu orang-orang US yang domestik itu usually they already have their own social circle. Jadi pas social events, they tend to go with people that they already know.

But in Ithaca, like, they know nobody. Jadi kayak they have no choice other than hanging out with you. Jadi kayak emang budaya US itu memang benar-benar kerasa, yang kayak gimana Halloween, gimana going to bars, sama kayak just your day to day like social event, itu benar-benar kerasa. Dan kita juga sering banget recruiting events ke New York juga, gara-gara tempatnya jauh dan biasanya orang-orang US itu they have their cars.

Jadi gara-gara lu bareng kayak pergi-

53:47 Victor: Road trip gitu ya.

Adi: Ya, road trip. Itu juga sering banget. Jadi kayak that's how you basically build relationship with others. Itu bahkan kayak gua diundang juga kayak ke nikahan temen gua yang Amerika gitu. Dan I don't think I will probably get like the wedding invitation kalau gua kuliah di universitas yang lain. That's probably kayak one of the proof kalau emang kuliah di Cornell itu is really good. Soalnya it's a really tight knit community.

Victor: Oke, oke. Jadi pas di Cornell kemarin, tujuan utamanya tuh networking ya, bukan cuma dapat MBA-nya doang. Jadi gelarnya sendiri is not too important in your opinion?

Adi: I think gelarnya sebenarnya important juga. Tapi kayak I want to balance kayak everything. Networking is definitely number one. So, Cornell is the biggest Ivy League like for undergrad. It's not like the biggest school like among all the Ivy League schools, kalau kita combine undergrad sama graduate programs. But the thing is, kalau misalnya graduate programs itu biasanya orang-orangnya enggak kerja di US. They usually go back to their home country.

Tapi kalau Cornell, because this is like the biggest Ivy League schools like for undergrad, for undergrad itu mostly orang-orang bakal kerja di US. So, you will have like networking opportunities with these people. Even like with this company, like there are a lot of like Cornell alums here. Di perusahaan yang sebelumnya juga sama. Bahkan presiden Rakuten yang sebelumnya itu juga lulusan Cornell. Jadi kayak networkingnya itu benar-benar bagus, dan yang tadi, it's a tight knit community.

Kayak at least kalau lu tinggal di kota yang sama, itu kayak ada, apa ya, sharing trauma yang sama gitu loh. Karena di Ithaca itu juga winter-nya itu is tough.

Keluar itu susah banget dan harus emang benar-benar saling membantu juga. Jadi kalau kemana-mana, if you don't have a car, kayak you tend to kayak rely sama orang-orang yang punya mobil gitu loh. Jadi bagus banget budayanya.

56:05 Victor: Saya kemarin kan aku kuliah di itu ya, di Melbourne. Dan in Melbourne I see banyak orang Indo tuh ngumpul sama orang Indo terus, sama orang Indo doang gitu kan. Orang Cina ngumpul sama orang Cina doang. Kalau di Cornell tuh gak kayak gitu ya? Atau itu memang ada yang kayak gitu, tapi Mas Adi yang decide to do otherwise?

Adi: Gua gak tahu ini gua hoki atau gak hoki, tapi kayak for me, kayak I'm the only Indonesian in my year.

Victor: Jadi mau ngumpul juga gak, gak ada.

Adi: Sebenarnya ada kayak orang Indonesia yang lain, cuma yang satu dia ngambil double degree. Jadi dia mulainya dari MPA, jadi lulusnya lebih belakangan. Yang satunya lagi dia differ. Jadi kayak I'm the only Indonesian kayak in my year, tapi kayak gua ngerasa it's not that bad. Dan di Cornell sendiri tuh gak terlalu banyak orang Indonesia. Mungkin kalau dihitung paling cuma ada dua puluh, tiga puluh, dan some of them itu adalah undergrad.

Jadi undergrad sama graduate itu biasanya gak terlalu sering ngumpul, mungkin kayak the world is still like kind of different kayak between the two. Biarpun kita banyak program-program yang bareng juga, tapi dulu pas zaman Covid itu nggak terlalu jalan organisasi orang Indonya, kayak just being honest. Tapi setelah Covid itu mulai aktif lagi program-programnya. Jadi dulu emang gue ngerasa kayak my community itu this MBA community, dan bahkan within this MBA community itu banyak banget kayak clubs-nya.

Mungkin kayak ada seratus kali, dan biasanya orang-orang itu cuma join up to three or four. Itu juga mereka biasanya ngambil satu professional club, sama yang lainnya itu kayak for sosial atau untuk olahraga. Jadi bahkan untuk kegiatan yang ini aja itu udah penuh banget, belum lagi recruiting. Jadi sebenarnya dulu di Cornell jujur aja nggak terlalu banyak kegiatan sama orang Indonesia, kegiatan orang Indonesia itu banyaknya bahkan setelah pindah ke Bay Area.

58:14 Victor: Iya, iya, betul, betul. Terus di Cornell tuh Mas Adi join club yang mana tadinya?

Adi: Jadi dulu ngambil yang pasti tech club-nya, kita nyebutnya high tech club. Dulu sempat jadi salah satu board membernya mereka juga. Dulu gue jadi VP of Education for full-time recruiting.

Victor: Wow, so fancy.

Adi: Jadi itu role bagus banget sebenarnya. Soalnya gue dapat insider knowledge, teman-teman gue itu dapat interview invite di perusahaan apa. Soalnya gue yang jadi middleman, kalau misalnya mereka dapat interview invite, mereka itu biasanya masukin ke portalnya Cornell. Jadi gue tahu mereka interview ke mana. Jadi gue juga yang connecting mereka ke second years atau ke alums. Tapi kayak my main responsibility itu sebenarnya ngebuat kurikulumnya. Jadi untuk orang-orang yang mau recruiting ke tech, ke product manager, ke product marketing, atau strategi, itu kita juga kumpulin soal-soalnya tuh.

Jadi biasanya orang-orang Cornell itu saling membantu.

59:24 Victor: Iya, bagus tuh.

Adi: Jadi kalau gue udah kelar interview, gue kumpulin tuh soal-soalnya. Dan teman-teman gue juga sama. Jadi mereka biasanya compile all the questions. Jadi gue yang kayak consolidate all of those questions. Terus itu kayak clean up, structuring them. Jadi, dan kerjaan yang menarik juga jadi board member di sana itu, kita juga yang ngurusin yang namanya tech track. Jadi kita ada beberapa spots, ada New York, Boston, Seattle sama Bay Area.

Jadi kita juga biasanya yang organize company visits. Jadi misalnya mau ke Apple, Google, itu ada program-programnya tiap tahun. Jadi itu juga salah satu kerjaan gue. Itu bahkan orientasi gue sebelum jadi board member. Jadi banyak yang jadi board member di tech club itu adalah orang-orang yang ngurusin tech track pas mereka di tahun pertama. Dan selain itu gue juga ngambil yang sosial juga tuh. Yang sosial itu juga macam-macam, yang pasti Southeast Asian Club.

Kita nggak ada Indonesian Club, soalnya...

1:00:30 Victor: Kurang orangnya.

Adi: Orangnya cuma satu. Tapi Southeast Asia itu masih ada beberapa orang. Jadi gue join yang itu, join Asian Club juga. Itu yang dari segi culture, terus itu untuk yang sehari-harinya gue join wine club.

Victor: Wow, wine club.

Adi: Terus itu ada, gue lupa nama club-nya apa, tapi ini yang mirip-mirip kayak product management yang suka join-join hackathon gitulah. Jadi supaya networking-nya nggak cuma terbatas ke MBA. Tapi kayak if I'm being honest, kayak gue juga lumayan nyesel sih. Harusnya gue juga explore kayak other clubs yang kayak sailing atau ice cream. Bukan, ice cream itu bukan club sih, itu ada mata kuliah yang ngebuat ice cream. Kalau lu juara, itu ice cream lu bakal dijual di salah satu toko ice cream-nya di Cornell selama setahun.

Victor: Wow, asik.

3 pelajaran MBA dan cara minta tolong 1:01:31

Victor: Terus di MBA ini, what do you think is the maybe top three or top five learning ya, yang lu bilang tuh, wah, ini gua bisa belajar top three or top five ini, ini penting banget gitu. Apa itu misalnya?

Adi: Kalau top three learnings, mungkin gua nggak ngambil dari mata kuliahnya sih, biarpun gua tahu kayak, soalnya semua pelajarannya itu mungkin kayak it's usually basic, kayak basic accounting, basic microeconomics, etc. Tapi itu lebih kayak apa ya, mungkin yang pertama, interview di US itu menurut gua porsi kayak storytelling-nya itu penting banget.

Victor: It's very important.

Adi: Ya, itulah pelajaran yang pertama. Before I dive deep into any of them, mungkin gua jawarin yang penting-penting dulu kali ya. Terus yang kedua, menurut gua yang paling penting itu adalah networking. Soalnya pas dari awal itu kita benar-benar diajarin gimana caranya networking ke second years, ke alums. Dulu kalau pas baru masuk, kita nggak dibolehin sama sekali tuh, nge-outreach ke alums. Soalnya banyak banget orang yang biasanya masih bingung gimana caranya untuk reach out to alums.

Kita udah ada strukturnya, ada template-nya, ada playbook-nya, gimana caranya nge-reach out, kayak emang udah ada template-nya juga. Biasanya banyak banget orang-orang yang gue lihat, yang misalnya bahkan sekarang aja ada yang nge-reach out, itu kayak, "Hi, can I get like a thirty minutes of your time doing a coffee chat", no context, nothing. Itu benar-benar kayak red flag kalau di MBA. Terus mungkin yang terakhir itu mungkin yang menurut gue yang pelajaran yang paling penting itu lebih kayak mengenal US sih dari segi cultures-nya.

Something that I can't learn cuma gara-gara gue belajar bahasa Inggris dari Indo gitu.

1:03:42 Victor: Ya, ya, ya. We'll go deeper into that for the culture because you travel to the States. But I want to go yang poin ini nih, yang if you want to ask for help gitu kan. Jadi coba ajarin orang-orang nih gimana, misalnya sekarang ada yang masih kuliah kan, S1, S2, S3, dan mungkin mereka mau reach out ke Mas Adi atau profesional yang lain gitu kan. How do they ask for help?

Karena kan kita udah establish kalau cuma bilangin, "Hei, boleh gak kita ketemu ngomong tiga puluh menit" tanpa konteks, itu that's bad karena it doesn't tell you anything. So what would be a good one?

Adi: Itu bukan dari pengalaman gue doang. Ini kayak emang bener-bener kurikulumnya udah ada dari sejak lama. Itu untuk nge-reach out ke orang, biasanya orang-orang itu juga udah mengalami hal yang sama. And many times they want to give back to community as well. Dan itu ada strukturnya. Yang pertama yang pasti like introduce yourself, siapa, terus kenapa mau minta coffee chat ini. Misalnya lu mau join perusahaannya dia, atau mungkin lu tertarik ke role-nya dia.

Jadi just have like a quick intro, "Hey, I'm a first year MBA student at Cornell. I'm passionate about ABC", and mungkin lu bisa connecting the dots dari your past experience sama kenapa lu mau kerja di perusahaannya atau di role yang sama kayak dia. It's not necessarily you want to join like the same company. Mungkin lu tertarik jadi product manager, tapi lu ngelihat ada alumni sekolah lu yang kerja di perusahaan A, tapi dia juga product manager.

Jadi mungkin dia juga udah belajar banyak kan dari segi persiapan interview. Jadi connecting the dots kenapa lu tertarik ke role-nya dia, dan yang paling penting yang lain itu adalah dari ngatur jadwalnya juga. Jangan kayak, "Can we do this like today or tomorrow?" Itu terlalu, itu juga red flag, soalnya kayak it's kind of telling that you are lacking of planning, preparation. Biasanya kasih waktu at least beberapa hari atau seminggu gitu.

Dan kalau yang ini lumayan opsional. Mungkin kalau time slots-nya itu juga bisa nanya ke si orang yang ditanyain itu, time slots-nya prefer-nya kapan, atau mau ngasih propose slots juga gak masalah, tapi jangan cuma ngasih jadwal yang benar-benar limited, kayak bisa gak minggu depan jam dua siang. Itu tuh bener-bener limited. Jadi kayak buat kayak lumayan open-ended juga. Sama yang mungkin yang terakhir ini yang mungkin lumayan penting, yang mungkin kadang-kadang orang missing out.

Kalau kita bisa nyeritain si perusahaannya itu produknya apa dan kenapa itu menarik buat lu, itu juga benar-benar bagus. Jadi kayak dia bisa ingat juga, "Oh, ini orang udah ada due diligence nih".

1:07:14 Victor: Show your effort.

Adi: Ya, your company. Jadi kayak dia tahu emang ini bukan something yang dia reach out ke-

Victor: Twenty thousand people.

Adi: Ya, twenty thousand people. Tapi dia emang benar-benar udah do their own due diligence, sama emang benar-benar interested sama role. Mungkin sama yang terakhir yang penting juga, biasanya setelah coffee chat itu juga get some insights from the conversation, have probably like one or two lines yang summarizing kayak what you got out of this conversation. Jadi kayak si orang ini juga ngerasa, oh you learn something sama you... Key takeaway-nya itu juga di communicate sebagus mungkin.

Jadi si orang ini ingat gitu. Jadi pas lu mungkin daftar perusahaannya dia atau daftar perusahaan orang yang lain, jadi dia juga udah punya gambaran kayak your personality kayak gimana. Itu benar-benar ngebantu pas recruiting sih.

1:08:15 Victor: I want to add one more into it. I think very important is follow up. Jadi habis lu ngomong sama the mentor kan, terus kan kayak Mas Adi bilang, kirimin the learnings gitu kan. Kirim learnings, terus kan lu bilang, "Oh, ini gua bakal apply ini". Terus dua minggu lagi lu bilang, "Oh, I've already apply this. Gua udah bikin resume-nya, gua bagusin. Ini gua udah apply ke sini". People really like it when you do that because it shows that kita bukan cuma omong doang, tapi you action oriented.

I think that's very important, right?

Adi: Ya, ya, that's definitely correct. And I think like some of the best people that I talk to actually did that. They even like share me like the latest and greatest updates about their recruiting journey. Like, "Hey, I just got the interview invite from company A", or even like they even like do like another follow up. "Can we have like another conversation so I can prep like for this interview or do you know anybody within the company that understands like this role or can you connect me with this person?".

Jadi kayak sebenarnya kayak the first conversation can become a stepping stone juga for you to actually talk with other people. Jadi kayak leverage other people's network, tapi sebenarnya in the same time si orang ini juga mungkin bakal perlu something dari lu kayak in the future. So you never know, kayak the world is actually like really small. So people help each other. So yeah.

1:09:50 Victor: Yeah, that's right.

Road trip keliling Amerika 1:09:52

Victor: So yang poin ketiga tadi bilang kan the US culture ya, so experience the US culture, dan ini kebetulan Mas Adi one of the only one that I know yang udah ke lima puluh state. Nah, tell us about it. Jadi kenapa mau coba ke lima puluh state, dan nyetir lagi kan, jauh banget tuh, berapa, dua bulan ya?

Adi: Iya, dua bulan, tiga bulan.

Victor: Dua bulan nyetir doang kan tiap hari kan, tiap hari perhatikan state ini, state itu. Jadi gimana nih motivasinya, dari kapan kok bisa kepikir kayak gitu, planning-nya gimana gitu?

Adi: Ya, jadi sebenarnya dari travelling ini, sebenarnya dari dulu udah suka travelling sih, udah pergi ke banyak negara juga. Tapi sebenarnya di US ini, itu biarpun itu satu negara, itu tiap negara bagian itu budayanya benar-benar unik, beda gitu. Dan dulu sebenarnya terinspirasi dari dua orang yang gue pernah kerja bareng. Jadi si dua orang ini mereka udah VP di perusahaan sebelumnya, dan si dua orang ini dulu juga pernah travelling tuh keliling US.

Yang satu bahkan pakai motor doang. Lebih epic lagi pakai motor doang. Yang satunya lagi dia itu katanya nyewa semacam truk yang ada rumahnya gitulah.

1:11:13 Victor: Karavan gitu ya.

Adi: Jadi kayak bisa tinggal di situ. Tapi mungkin itu terlalu ribet ya, terlalu banyak effort. Sama dia juga katanya udah ada partner yang bisa bawa bareng kayak keliling di US. Tapi kalau itu alasan pertama, terinspirasi. Terus yang kedua, honestly gua ngeliat banyak banget orang-orang yang punya planning, oh gua mau pensiun, habis itu gua keliling dunia. Tapi kayak at the same time, kayak the older you are, itu kayak you probably don't have kayak the same like physical ability yang lu punya sekarang.

Jadi misalnya kayak ngedaki-ndaki gunung, mungkin lu gak bakal sanggup lagi. Even you have like money, tapi kayak you probably kayak enggak, enggak se apa ya, enggak sefit yang dulu lah. Dan yang lain lagi yang gua, itu banyak banget berita-berita orang-orang muda itu meninggal dunia, padahal itu udah sukses banget. Itu banyak banget kayak gua lihat kayak founder-founder sukses yang udah jadi millionaires, yang jadi billionaires, tapi kayak mereka masih umur tiga puluh tiba-tiba meninggal.

Jadi kayak gua ngerasa kayak ya udah, gara-gara gua transisi kerja, kayak this is probably like the best time. Kalau dulu mungkin pas masih kuliah, kalau mau travelling you probably don't have money, right? It doesn't make sense for you kayak to travel the world if you don't even have much money. Tapi kalau sekarang kayak lu udah kerja kayak beberapa tahun setelah MBA, dan gua ngeliat this opportunity knowing that I will move to another company anyway.

Jadi kayak just leverage this opportunity. I may also kayak mungkin kayak tinggal di rumah terus kayak persiapan kerja. Tapi itu is a really boring thing to do. Sama yang tadi mungkin is also related to the first point yang gua bilang tentang one of the best learnings yang gua dapat di US. Ketika lu daftar kerja, storytelling itu penting banget. Sebenarnya bukan cuma pas interview kerja doang, tapi kayak ketika lu udah masuk di suatu perusahaan, ketika lu ngobrol sama your colleagues lagi lunch, lu biasanya enggak cuma bahas kerjaan, tapi kayak bahas kayak something else, kayak your hobby, etc.

So the more stories that you can share with others, itu biasanya kayak the easier for you kayak to build relationships. Dan gua kayak ngelakuin this travelling, going from one state to another state, itu juga sebenarnya lebih ke sana. Dan yang terakhir, gua banyak banget teman di, mostly di East Coast, yang gua udah lama banget enggak ketemu. Jadi setelah...

1:13:57 Victor: Dari Cornell gitu ya.

Adi: Bukan Cornell doang, tapi ada orang Indo juga. Dan selain itu gua pengen banget ke National Parks. Di US itu National Parks mungkin banyak banget yang jadi top destination orang-orang kan. Ada Grand Canyon, Yosemite, Yellowstone. Dan gara-gara gua punya waktu, dan itu sebenarnya adalah bulan-bulan yang enggak terlalu sibuk juga. Jadi kalau mungkin tuh pas summer, itu mungkin bakal susah banget. Cari parkiran aja mungkin kayak mission impossible kalau bulan Juni, Juli gitu.

Dan gua transisinya tuh bulan Maret, April ama Mei. Jadi kayak timing-nya itu pas banget. Jadi pas banget, jadi ya udah, I decided to travel all over the US, dan emang ngerasain kayak tempat-tempat itu berbeda banget. Kayak ada yang emang fokus ke jazz, ada yang emang wisatanya alam banget, ada yang emang kotanya olahraga banget. Jadi itu kayak emang unik-unik banget kayak negara-negara bagian di US.

1:15:04 Victor: Wow, itu pakai mobil apa tuh? Sewa mobil terus jalan sendiri gitu?

Adi: Itu pakai mobil gua sendiri sih. Sama kayak the thing is, gua sebenarnya udah beli mobil ini dari 2022. Tapi kayak if you look at the number of miles yang gua udah nyampe, itu masih rendah banget. Kayaknya by the time I started the journey itu kayak mungkin masih fifteen thousand miles. Kayak even though I have already driven this car like probably for like three years or so. Jadi itu bayangin aja, five thousand miles a year is really low.

Jadi kayak this is also like an opportunity for me, kayak ya udah, kayak make this mobil more. Sama kayak another thing, kayak at one point kayak I may transition like to an electric car. Kalau gua masih, sekarang gua pakai yang gas car, dan itu sebenarnya comfortable banget soalnya gua pakai SUV, jadi kayak I can store like a lot of things like in my car. Kalau gua sewa mobil mungkin itu bakal mahal banget kayaknya.

I don't even think like they allow like people like to lease a car like for three months.

1:16:21 Victor: I don't know. But I think you made very good point ya. Kan sekarang banyak yang sibuk kerja terus bilangin mau nunggu sampai pensiun baru travel, and I think that's a very good point. Kalau lu nungguin sampai umur enam puluh lima baru travel, lu udah capek, jalan susah kan. Hopefully you'll be healthy, tapi we getting older, like I'm already feeling that I'm getting older and it's like not like before.

Dan travel doesn't have to be too long as well kan. Kayak lu ambil cuti sebulan, I think that's good enough to travel a lot. Kayak kemarin gua pas honeymoon ya, pas gua baru nikah, terus gua sama istriku travel in Europe. Kita beli tiket train doang. Jadi ada Euro train itu kan, beli satu tiket doang buat satu bulan. Lu bisa kemana-mana. Jadi gua travel the entire Western Europe pakai satu tiket doang.

Dari Paris ke Itali, ke Austria, ke Luxemburg, itu semua pakai satu tiket doang. So there is a lot of options to travel that people should look into it more.

1:17:31 Adi: Ya, ya, definitely sounds fun.

Victor: Ya, that's right. So pas kita travel yang di US ini, what do you feel like is the top tips, kalau misalnya ada teman-teman yang mau coba kayak gini juga, tipsnya apa nih yang dari yang sudah pernah melakukan?

Adi: Yang pertama yang pasti planning. Planning is really important. Soalnya kayak if you've never been to that state before, at least you know like which route that you have to take. Terus itu yang kedua, pastiin untuk nge-download offline maps.

Soalnya banyak banget kayak daerah-daerah...

Victor: Gak ada signal ya.

Adi: Gak ada signal sama sekali. Gak ada signal sama sekali. Sama yang ketiga, pastiin kayak you have kayak all the things you need, kayak mungkin sediain snack, tapi just need to be careful as well, especially kalau lu mengunjungi negara-negara yang banyak beruang ya. Soalnya kayak lu bisa jadi target beruang kalau lu ninggalin makanan.

1:18:35 Victor: Beli itu gak ya, bear spray?

Adi: Ya, ya. I bought that as well, but I didn't have a chance to use it.

Victor: It's a good thing.

Adi: Which is a good thing. Jadi persiapin kayak peralatan-peralatan, mungkin bantal, selimut juga penting. Soalnya kayak perjalanannya itu jauh banget. I remember mungkin kayak in average gua nyetir itu bisa sampai enam tujuh jam sehari, tapi kayak at one point itu, gara-gara jarak satu negara bagian ke negara bagian itu jauh banget, itu bisa lebih dari sepuluh jam, bahkan rekor itu kayaknya gua pernah nyampe empat belas jam kalau gua hitung.

Itu rekor, tapi maksudnya itu kayak not to do ya, itu mungkin bukan sesuatu yang bagus. Tapi kayak yang terakhir itu, jangan cuma ngitung kayak, oh gua tidur enam jam atau tujuh jam today, kayak listen to your body. Kadang-kadang kayak lu biarpun tidur delapan jam, sembilan jam, tapi lu tahu kalau lu itu udah enggak fit lagi. Jadi kayak pastiin kalau lu nyetir itu kayak lu emang lagi fit, atau emang kalau ngantuk atau lain segala macam, ya udah, banyak banget rest area di US dan rest area itu juga banyak yang bagus gitu loh.

Jadi kayak emang udah ada toiletnya, ada makan dan minum yang lu bisa beli juga. Jadi sebenarnya kayak you don't need to, apa ya, kayak terlalu prepare juga. Sebenarnya sekarang udah ada ChatGPT.

Gua honestly kayak kadang-kadang gua target, oh gua mau ke tujuh tempat, gara-gara gua nyetir, gua gak pernah ke area itu, gua gak tahu parkir di mana tuh. Jadi itu salah satu gimana gua pakai AI kayak for my day to day. Jadi gua biasanya nanyain, gua datang dari kota A, gua mau ke kota B, setelah itu gua mau ngunjungin tujuh tempat ini, kayak optimize gua harus kemana dulu, dan untuk tiap tempat kasih rekomendasi gua harus parkir di mana, dan biasanya gua juga tulis tuh, gua prefer yang free parking misalnya.

Tapi kalau emang benar-benar lebih bagus untuk paid parking, that's fine juga. Jadi itu adalah sebenarnya banyak hal banget, tapi itu menurut gua hal-hal yang paling penting sih.

1:21:06 Victor: Ya, betul-betul. Dan wanna maybe add a few points here too. Kayak yang offline map itu kan, jadi aku sama keluargaku, istri sama anak, suka road trip juga, dan one of the most important thing is to get multiple provider. Jadi aku pakai Verizon, istriku pakai AT&T. Jadi itu banyak kadang-kadang aku gak ada signal tapi dia ada, dia gak ada signal aku ada. Jadi that's the one thing. And then two is about driving.

Ya, if you have the chance, bisa pakai Tesla FSD atau one of the other FSD. Karena once I get it, oh my god, it's blowing my mind gitu kan. Dulu kan begitu nyetir kita selalu ganti tiap dua jam. Jadi aku nyetir dua jam terus ganti istriku, tapi begitu udah FSD kita gak nyetir lagi, tinggal set aja mau ke sono, santai. It's such a game changer. I think if you have a, you know...

When you buy your car, make sure I have FSD.

Adi: Ya, mungkin gua gak tahu FSD itu ada di gas car enggak ya?

Victor: I don't know ya. Kalau gak salah tuh Cruise, ada Blue Cruise gitu kan di GM car. Jadi maybe the GM car will have some, karena GM doesn't have a lot of electric car. Tapi kalau misalnya Tesla ya, it's all like EV.

1:22:21 Adi: Ya, kenapa gua enggak mobil listrik, soalnya gua ngerasa ya, kayak within a day kayaknya kadang-kadang gua bisa nyampe ngisi bensin tuh tiga kali loh.

Tiga kali, so sekali ngisi bensin gue tuh kayaknya sekitar, gua lupa, tiga ratus berapa miles gitu. Just imagine kayak within a day kalau... Soalnya ini road trip gue jauh-jauh banget kan ya.

Victor: Iya, betul.

Adi: Kalau gua pakai mobil listrik, it's not really efficient.

Victor: No, you have to charge for a long time.

Adi: Dan gua bahkan gak tahu kayak ada gak charging infrastructure di kota-kota terpencil itu. Jadi sebenarnya emang gua sengaja banget memang pakai gas car. Mobil listrik oke, bagus, mungkin kalau ke LA bolak-balik okelah. Soalnya infrastrukturnya udah bagus. Tapi kalau daerah-daerah terpencil di US yang lain itu gak terlalu. Tapi emang bener sih, FSD itu gua emang acung jempol banget. Bahkan manajer gue yang sekarang juga, dia tinggalnya di Pleasanton, itu kayak sekitar, bukan Pleasanton, Dublin kayaknya.

Kayak itu kayak satu setengah jam kali ya ke sini. Jadi emang tiap hari dia tuh pakai FSD. Cuma kayak the only complaint yang dia punya itu dia ngerasa mobilnya jalannya terlalu lambat.

1:23:36 Victor: Bisa di- bisa digas lagi sampai FSD. Oke, oke, kita sebenarnya masih ada topik, kita belum ke Rakuten, belum ke Handshake, masih belum ada topik-topik lain, tapi udah hampir satu setengah jam nih. So thank you so much Mas Adi, nanti kita ada next episode lagi to go to the other topics, because I don't want to speak for four hours nonstop ya. Jadi I think this is good enough for episode one.

So thank you everyone for listening and thank you Mas Adi. So thank you so much and we'll do another episode soon.

Adi: Awesome. Thanks for having me and as really grateful to be part of this podcast, especially as the first guest.

Victor: Yeah, that's right. Zero zero one. Thank you.

Adi: Patient zero zero one.

Episode lain

Mau dikabarin pas episode baru tayang?

Tinggalin email kamu. Kita cuma kirim kabar episode baru, nggak spam.